Kapal Mati Mesin Berhari-hari, Komisi IV DPRD Lampung Kritik Respons Operator dan Pemilik Kapal

Rawnews.co.id— Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Muhammad Gofur, menyampaikan keprihatinannya atas insiden yang menimpa kapal Mutiara Persada III yang dilaporkan terombang-ambing di perairan akibat mengalami mati mesin.

Menurutnya, kejadian tersebut tidak hanya memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan penumpang, tetapi juga menyoroti lemahnya sistem penanganan darurat di jalur penyeberangan nasional yang sangat vital.

“Iya kita pertama prihatin terhadap kejadian yang menimpa kapal Mutiara Persada III yang terombang-ambing karena mati mesin,” ujar Gofur.

Selain rasa prihatin, Gofur juga menyoroti lambannya respons yang dilakukan baik oleh pihak pemilik kapal maupun operator pelayanan. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi evaluasi serius, mengingat lintasan Merak–Bakauheni merupakan salah satu jalur penyeberangan tersibuk dan terpenting di Indonesia.

Ia mempertanyakan bagaimana kapal yang mengalami gangguan di tengah laut justru terkesan lambat mendapatkan penanganan.”Kita menyayangkan penanganannya lambat, baik oleh pemilik kapal maupun operator pelayanan. Ini harus menjadi catatan serius. Bagaimana ceritanya ada kapal bermasalah di tengah laut, tetapi evakuasi dan penanganannya terkesan lambat,” tegasnya.

Gofur menilai kondisi tersebut menjadi alarm penting bagi pengelola transportasi laut. Sebab jika satu kapal saja mengalami masalah dan penanganannya berlangsung lambat, maka potensi risiko akan jauh lebih besar saat terjadi lonjakan mobilitas masyarakat seperti musim mudik atau libur panjang.

Menurutnya, jalur Merak–Bakauheni merupakan akses utama dengan tingkat aktivitas yang sangat tinggi. Karena itu, kesiapan sistem tanggap darurat menjadi keharusan.”Bayangkan kalau terjadi di momen krusial seperti arus mudik atau libur besar dan ada kapal yang bermasalah. Bagaimana penanganannya? Ini tentu berbahaya jika tidak dijadikan bahan evaluasi,” katanya.

Dari sisi teknis, Komisi IV DPRD Lampung menilai langkah pertama yang harus segera dilakukan adalah proses evakuasi kapal dan penumpang secara cepat. Terlebih kapal tersebut tidak dalam kondisi kosong dan membawa penumpang serta kemungkinan muatan niaga yang berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar apabila penanganannya terlambat.

Tak hanya itu, Gofur juga meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelamatan, prosedur tanggap darurat, hingga mekanisme rescue pada jalur penyeberangan tersebut.Ia menilai lambannya penanganan yang berlangsung hingga berhari-hari menunjukkan adanya persoalan serius yang harus dibenahi.

Selain aspek tanggap darurat, Gofur juga menyoroti pentingnya uji kelayakan armada secara menyeluruh. Ia khawatir masih ada kapal-kapal yang secara operasional tidak lagi layak namun tetap diizinkan beroperasi.

“Jangan-jangan ada kapal yang sebenarnya tidak layak beroperasi tetapi tetap dibiarkan. Ini berbahaya. Alhamdulillah kali ini hanya terombang-ambing. Kalau terjadi hal yang lebih besar tentu kita tidak menginginkannya,” ujarnya.

Ia menegaskan evaluasi total terhadap sistem operasional kapal dan pemeriksaan kelayakan armada harus dilakukan agar keselamatan penumpang menjadi prioritas utama.(raw).

Related posts

Leave a Comment